Sun-Sal Streaming Video

Live!

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2015

Adab dan Tata Cara Sholat Yang Sempurna

سمع ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺃﺑﻮ ﻳﻮﺳﻒ ﻭﻫﻮ أقوى ﺗﻼﻣﻴﺬ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺃﻥ ﺷﺎﺑﺎ ﻳﺪﻋﻰ ﺣﺎﺗﻤﺎ ﺍﻷﺻﻢ ﻳﺘﺤﺪﺙ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻫﺪ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﺘﻼﻣﻴﺬﻩ : ﻫﻠﻤﻮﺍ ﺑﻨﺎ ﻧﺬﻫﺐ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻨﺴﺄﻟﻪ ، ﻓﺈﻥ ﺃﺟﺎﺑﻨﺎ ﺟﻠﺴﻨﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﻧﺴﺘﻤﻊ

Abu Yusuf (murid imam Abu Hanifah yang terkuat) mendengar bahwa seorang pemuda mengaku sebagai Hatim Al asom yang sedang berbicara di dalam masjid tentang zuhud. Maka beliau berkata pada murid-muridnya : mari kita pergi kepada pemuda tsb dan kita tanyai dia, kalau dia menjawab kita duduk dan kita dengarkan.

ﻓﻠﻤﺎ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺳﺄﻟﻪ :
ﻳﺎ ﺷﺎﺏ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ؟
Maka ketika Abu Yusuf sudah masuk masjid, beliau bertanya pada pemuda :
wahai pemuda berilah kabar kepadaku tentang sholat?  
ﻓﺮﺩ ﺣﺎﺗﻢ ﺍﻷﺻﻢ ﻭﻗﺎﻝ :
ﺃﺗﺴﺄﻟﻨﻲ ﻋﻦ ﺁﺩﺍﺑﻬﺎ ﺃﻡ ﻋن ﻛﻴﻔﻴﺘﻬﺎ ؟
Maka Hatim menjawab dan berkata :
apakah kamu bertanya tentang adab-adabnya sholat atau tentang tata caranya?

ﻓﺘﻌﺠﺐ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻭ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ﻋﺠﺒﺎ ، ﺳﺄﻟﻨﺎﻩ ﺳﺆﺍﻻ ، ﻓﺠﻌﻠﻪ ﺍﺛﻨﻴﻦ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﻟﺤﺎﺗﻢ : ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﻋﻦ ﺁﺩﺍﺑﻬﺎ
Maka sang Qodhi pun takjub dan berkata pada dirinya “kami bertanya padanya satu pertanyaan dan dia menjadikannya menjadi dua”, lantas sang Qodhi berkata kepada Hatim : beritahu aku tentang adab-adabnya
ﻓﻘﺎﻝ ﺣﺎﺗﻢ :
ﺁﺩﺍﺑﻬﺎ ﺃﻥ ﺗﻘﻮﻡ ﺑﺎﻷﻣﺮ ﻭ ﺗﻤﺸﻲ ﺑﺎﻻﺣﺘﺴﺎﺏ ﻭ ﺗﺪﺧﻞ ﺑﺎﻟﻨﻴﺔ ﻭﺗﻜﺒﺮ ﺑﺎﻟﺘﻌﻈﻴﻢ ﻭ ﺗﻘﺮﺃ ﺑﺎﻟﺘﺮﺗﻴﻞ ﻭ ﺗﺮﻛﻊ ﺑﺎﻟﺨﺸﻮﻉ ﻭ ﺗﺴﺠﺪ ﺑﺎﻟﺨﻀﻮﻉ ﻭ ﺗﺘﺸﻬﺪ ﺑﺎﻹﺧﻼﺹ ﻭ ﺗﺴﻠﻢ ﺑﺎﻟﺮﺣﻤﺔ
Hatimpun berkata :
adapun adab-adabnya yaitu kamu berdiri dengan perintah, berjalan dengan mengharap pahala, masuk dengan niat, takbir dengan rasa penghormatan, membaca dengan tartil, rukuk dengan khusyuk, sujud dengan khudlu’, tasyahud dengan ikhlas dan salam dengan rahmat
.
ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺃﺑﻮ ﻳﻮﺳﻒ : ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ ﻋﻦ ﻛﻴﻔﻴﺘﻬﺎ
Kemudian Qodhi Abu Yusuf berkata : berikabar aku tentang tata caranya
ﻗﺎﻝ ﺣﺎﺗﻢ :
ﺗﺠﻌﻞ ﺍﻟﻜﻌﺒﺔ ﺑﻴﻦ ﺣﺎﺟﺒﻴﻚ ﻭﺍﻟﻤﻴﺰﺍﻥ ﻧﺼﺐ ﻋﻴﻨﻴﻚ ﻭ ﺍﻟﺼﺮﺍﻁ ﺗﺤﺖ ﻗﺪﻣﻴﻚ ﻭﺍﻟﺠﻨﺔ ﻋﻦ ﻳﻤﻴﻨﻚ ﻭ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻋﻦ ﺷﻤﺎﻟﻚ  ﻭﻣﻠﻚ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺧﻠﻔﻚ ﻳﻄﻠﺒﻚ ﻭ ﻻ ﺗﺪﺭﻱ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺃﻗﺒﻠﺖ ﺻﻼﺗﻚ ﺃﻡ ﺭﺩﺕ ﻋﻠﻴﻚ
Hatim pun menjawab :
tata caranya yaitu kamu menjadikan ka’bah ada diantara kedua alismu, mizan (timbangan amal) di depan kedua amatamu, sirod berada dibawah kedua telapak kakimu, surga di sebelah kananmu, neraka di sebelah kirimu, malaikat maut di belakangmu sedang mengintai kamu, dan kamu tidak mengetahui setelah itu apakah sholat kamu diterima atau dikembalikan kepadamu (ditolak)

ﻓﺴﺄﻟﻪ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ : ﻣﻨﺬ ﻛﻢ ﺗﺼﻠﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺼﻼﺓ ؟
ﻓﺮﺩ ﺣﺎﺗﻢ : ﻣﻨﺬ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﺳﻨﺔ
ﻓﺎﻟﺘﻔﺖ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺃﺑﻮ ﻳﻮﺳﻒ ﻷﺻﺤﺎﺑﻪ
ﻭ ﻗﺎﻝ ﻫﻠﻤﻮﺍ ﺑﻨﺎ ﻧﻘﻀﻲ ﺻﻼﺓ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﻣﻀﺖ
Mendengar jawaban yang mengagumkan maka sang Qodhi bertanya kepada Hatim : sejak kapan engkau sholat dengan tata cara sholat seperti ini? sejak 20 th yang lalu, jawab Hatim.
Maka Qodhi Abu Yusuf menoleh kepada teman-temannya dan berkata : mari kita qodho’i sholat 50 th yang lalu.

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﺟﻌﻠﻨﺎ ﻣﻤﻦ ﻳﻘﻴﻤﻮﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﺂﺩﺍﺑﻬﺎ ﻭﻛﻴﻔﻴﺘﻬﺎ....

Kamis, 16 April 2015

Jangan Pernah Meremehkan Orang Lain

Terlihat seorang wanita berpenampilan menarik berusia 40-an membawa anaknya memasuki area
perkantoran sebuah perusahaan terkenal.
Karna masih sepi,mreka pun duduk di taman samping gedung utk sarapan sambil menikmati hamparan hijau nan asri.
Selesai makan, dgn santai si wanita membuang sembarangan tisu bekas pakai.
Tdk jauh dari situ, ada seorang kakek tua berpakaian sederhana memegang gunting utk memotong ranting.
Dgn diam, kakek itu menghampiri, memungut sampah tisu dan membuangnya ke tempat sampah.
Bbrp waktu kemudian, kembali wanita itu membuang bekas makanan tanpa rasa sungkan. Kakek itu pun dgn sabar memungut dan membuangnya ke tpt sampah.
Sambil menunjuk ke arah sang kakek, si wanita itu lantang berkata ke anaknya, ”Nak, kamu lihat kan, jika tidak sekolah dengan benar, nanti masa depan kamu cuma seperti kakek itu. Kerjanya mungutin dan buang sampah! Kotor, kasar, dan rendah seperti dia.”
Si kakek meletakkan gunting dan menyapa ke wanita itu, “Permisi, ini adlh taman pribadi, bagaimana Anda bisa masuk ke sini?”
Wanita itu dengan sombong menjawab, “Aku adalah calon manager yg dipanggil oleh
perusahaan ini.”
Di waktu yang bersamaan, seorang pria dengan sikap sopan dan hormat
menghampiri sambil berkata,”Pak Presdir, mau mengingatkan saja, rapat sebentar lagi akan segera dimulai.”
Sang kakek mengangguk. Lalu sambil mengarahkan matanya ke wanita di situ, dia berkata tegas
“Manager, tolong untuk wanita ini, saya usulkan tidak cocok untuk mengisi posisi apa pun di perusahaan ini.”
Sambil melirik ke arah si wanita, si manager menjawab cepat, “Baik Pak Presdir, kami segera atur sesuai perintah Bapak.”
Setelah itu, sambil berjongkok, sang kakek mengulurkan tangan membelai kepala si anak yang dari tadi memperhatikannya.
“Nak, di dunia ini, yg penting adlh belajar untuk menghormati setiap orang, siapa pun dia, entah direktur atau tukang sampah...

Jangan pernah meremehkan orang lain, karena siapa tahu ternyata dia lebih baik dari kita.

Sudahkah Pantaskah Kita Disebut Sebagai Da'i


Para Nabi dan Rosul Allah dari zaman ke zaman benar-benar berjuang dan berdakwah demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi ini.
Nabi besar Muhammad SAW juga demikian keras dalam menjalani dakwah kepada kaumnya. Bukan pujian dan sanjungan yang beliau dapatkan saat permulaan berdakwah, namun cacian dan makian serta permusuhan yang beliau dapatkan ketika berjuang dalam berdakwah di jalan Allah SWT. Masya Allah memang perjuangan yang beliau tunjukkan dalam mengemban dakwah yang mulia tsb, bahkan nyawa beliau pun rela dikorbankan demi tersampaikannya dakwah kepada para ummatnya.
Pantas sekali kalau para aulia' dan ulama' yang termasuk pewaris nabi mereka juga senantiasa sabar dan berjuang keras dalam melanjutkan dakwah islam yang pernah diperjuangkan oleh Nabi SAW.

Lantas bagaimana diri kita? sudah seberapa jauhkan pengorbanan yang kita keluarkan untuk dakwah di jalan Allah??! sudah berapa ujian dan cobaan yang menghadang kita saat kita berdakwah??! dan apakah kita sudah pantas dibilang sebagai Da'i atau orang yang benar-benar berdakwah di jalan Allah SWT?!
Ternyata apa yang kita lakukan dalam berdakwah masih tidak ada 1% pun dari apa sudah para pendahulu kita lakukan. Namun demikian tak jarang kita sudah merasa bahwa diri kita sudah benar-benar dakwah secara maksimal. Masya Allah Laa Chaula Wa Laa Quwwata Illa Billah...

Sabtu, 21 Maret 2015

Jangan Hanya Sukses Dunia

Kala kita menjalani kehidupan kita di atas dunia ini, pastinya kita ingin mendapatkan keberhasilan dan kesuksesan, oleh karena itu kita berusaha dan bekerja keras, dari pagi buta hingga malam gelap gulita kita jalani aktivitas dan kegiatan kita, semua itu semata-mata untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dan idam-idamkan yaitu kekayaan dan kehidupan yang mapan. Namun sadarkah kita setelah kita mendapatkan semua itu apakah kita benar-benar mendapatkan ketenangan dan keberhasilan dalam ketenangan ? jawabannya pasti tidak, karena sudah menjadi sifat manusia yaitu selalu kurang dan kurang.
Lantas apakah sebenarnya keberhasilan dan kesuksesan itu? Hakekat keberhasilan dan kesuksean bukan kita ukur dari banyaknya harta benda dan tingginya pangkat dan jabatan yang kita peroleh, tapi hakekatnya adalah saat kita bisa menjadi orang yang tidak disiksa nanti di akherat dan mendapatkan keridhoan dari dzat yang menguasi segalanya.
Banyak diantara kita yang mempunyai harta berlimpah namun ternyata mereka melakukan kecurangan dan kedzoliman, dan itu nantinya akan menjadikan dia sengsara di kehupan akhiranya. Banyak orang yang pankat dan jabatannya tinggi namun ternyata juga mereka melakukan ketidak adilan dan perampasan dalam kekuasaannya, sehingga itu semua akan mebuat dia menyesal di keneraka. Na'uddzu billah..!!
Oleh karena itu, kalau kita ingin sukses dan berhasil, jangan kita hanya memikirkan kesuksesan dunia saja, namun juga kita utamakan untuk mendapatkan kesuksesan dan keberhasilan akherat kita, dengan melakukan amal baik dan ibadah kepada Allah SWT dengan semaksimal mungkin.

Allah SWT menjelaskan dalam firmannya (artinya) "barangsiapa yang selamat dari siksaan api neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka dialah orang yang beruntung"
=================================
www.suaranabawiy.com
http://blogcatatankita.blogspot.com/

Senin, 16 Maret 2015

Kala Hidayah Allah Menyapa Hambanya

Ibrahim al-Khawas ialah seorang wali Allah yang terkenal keramat dan dimakbulkan segala doanya oleh Tuhan. Beliau pernah menceritakan suatu peristiwa yang pernah dialaminya. Katanya, “Menurut kebiasaanku, aku keluar menziarahi Mekah tanpa kenderaan dan kafilah. Pada suatu kali, tiba-tiba aku tersesat jalan dan kemudian aku berhadapan dengan seorang rahib Nasrani (Pendita Kristian).” Bila dia melihat aku dia pun berkata, “Wahai rahib Muslim, bolehkah aku bersahabat denganmu?”
Ibrahim segera menjawab, “Ya, tidaklah aku akan menghalangi kehendakmu itu.” Maka berjalanlah Ibrahim bersama dengannya selama tiga hari tanpa meminta makanan sehinggalah rahib itu menyatakan rasa laparnya kepadaku, katanya, “Tiadalah ingin aku memberitakan kepadamu bahawa aku telah menderita kelaparan. Kerana itu berilah aku sesuatu makanan yang ada padamu.” Mendengar permintaan rahib itu, lantas Ibrahim pun bermohon kepada Allah s.w.t. dengan berkata, “Wahai Tuhanku, Pemimpinku, Pemerintahku, janganlah engkau memalukan aku di hadapan seteru engkau ini.”
Belum pun habis Ibrahim berdoa, tiba-tiba turunlah setalam hidangan dari langit berisi dua keping roti, air minuman, daging masak dan tamar. Maka mereka pun makan dan minum bersama dengan seronok sekali. “Sesudah itu aku pun meneruskan perjalananku. Sesudah tiga hari tiada makanan dan minuman, maka di kala pagi, aku pun berkata kepada rahib itu, “Hai rahib Nasrani, berikanlah ke mari sesuatu makanan yang ada kamu. Rahib itu menghadap kepada Allah s.w.t., tiba-tiba turun setalam hidangan dari langit seperti yang diturunkan kepadaku dulu.”
Sambung Ibrahim lagi, “Tatkala aku melihat yang demikian, maka aku pun berkata kepada rahib itu – Demi kemuliaan dan ketinggian Allah s.w.t., tiadalah aku makan sehingga engkau memberitahukan (hal ini) kepadaku.” Jawab rahib itu, “Hai Ibrahim, tatkala aku bersahabat denganmu, maka jatuhlah telekan makrifah (pengenalan) engkau kepadaku, lalu aku memeluk agama engkau. Sesungguhnya aku telah membuang-buang masa di dalam kesesatan dan sekarang aku telah mendekati Allah s.w.t. dan berpegang kepada-Nya. Dengan kemuliaan engkau, tiadalah dia memalukan aku. Maka terjadilah kejadian yang engkau lihat sekarang ini. Aku telah mengucapkan seperti ucapanmu (kalimah syahadah).”
“Maka sucitalah aku setelah mendengar jawapan rahib itu. Kemudian aku pun meneruskan perjalanan sehingga sampai ke Mekah yang mulia. Setelah kami mengerjakan haji, maka kami tinggal dua tiga hari lagi di tanah suci itu. Suatu ketika, rahib itu tiada kelihatan olehku, lalu aku mencarinya di masjidil haram, tiba-tiba aku mendapati dia sedang bersembahyang di sisi Kaabah.” Setelah selesai rahib itu bersembahyang maka dia pun berkata, “Hai Ibrahim, sesungguhnya telah hampir perjumpaanku dengan Allah s.w.t., maka peliharalah kamu akan persahabatan dan persauaaraanku denganmu.”
Sebaik sahaja dia berkata begitu, tiba-tiba dia menghembuskan nafasnya yang terakhir iaitu pulang ke rahmatullah. Seterusnya Ibrahim menceritakan, “Maka aku berasa amat dukacita di atas pemergiannya itu. Aku segera menguruskan hal-hal pemandian, kapan dan pengebumiannya. Apabila malam aku bermimpi melihat rahib itu dalam keadaan yang begitu cantik sekali tubuhnya dihiasi dengan pakaian sutera yang indah.” Melihatkan itu, Ibrahim pun terus bertanya, “Bukankah engkau ini sahabat aku kelmarin, apakah yang telah dilakukan oleh Allah s.w.t. terhadap engkau?”
Dia menjawab, “Aku berjumpa dengan Allah s.w.t. dengan dosa yang banyak, tetapi dimaafkan dan diampunkan-Nya semua itu kerana aku bersangka baik (zanku) kepada-Nya dan Dia menjadikan aku seolah-olah bersahabat dengan engkau di dunia dan berhampiran dengan engkau di akhirat.”
Subhanallah...!!!

Selasa, 10 Maret 2015

Tobatnya Sang Pencuri Kain Kafan

Adzab kubur dan nikmat kubur adalah suatu kenyataan.
Seperti yang dikisahkan oleh seorang penggali kubur yang sukanya mencuri kain kafan setiap mayat yang baru dikubur.
Kabar kubur ini semoga menjadikan kita lebih meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.
Berikut ini pengakuannya:
Pada suatu hari, sebut saja namanya Yunus, ia pemuda yang berprofesi sebagai penggali kubur telah berjumpa dengan seorang ahli ibadah dan sufi untuk menyatakan keinginannya untuk bertaubat kepada Allah SWT.
Ia bertobat karena selain menggali kubur, ternyata Yunus ini juga sering mencuri kain kafan mayat yang baru dikubur.


Kain kafan yang masih baru itu dia jual dan dari hasil penjualannya ia gunakan sebagai tambahan hidup sehari-hari.
Kepada sang sufi, Yunus mengaku ingin menghentikan pekerjaan kotornya itu dan ia pun berterus terang terhadap apa yang dilakukannya selama ini.
"Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku telah melihat 7 hal ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut, dan lantaran itulah aku merasa sangat insyaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan ingin sekali bertobat," aku Yunus kepada sufi.
"Apa saja yang kau alami wahai Yunus," tanya sang sufi.
"Aku melihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat, tetapi saat aku gali malam harinya, mayat itu telah membelakangi kiblat.Wahai guru, apa yang telah dilakukan si mayit saat hidup?" kata Yunus.
Perut Membuncit
"Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah SWT sewaktu hidupnya.
Allah SWT memalingkan wajah si mayit dari kiblat," jawab sang sufi.
"Lalu ada lagi, aku lihat wajah mayit yang seolah tampan saat dimasukkan ke dalam liang lahat.
Tapi tatkala malam hari ketika menggali lagi kuburnya, aku lihat wajah itu telah menjadi wajah babi," kata Yunus.
"Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan sholat sewaktu hidupnya," jawab sang sufi.
Si pemuda menyambung lagi,
"Wahai tuan guru, aku juga melihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan sepeti biasa saja, tapi pada waktu malam kulihat perutnya membuncit, bahkan keluar ulat dari dalam perutnya," kata Yunus.
"Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda," balas sang sufi.
"Lalu aku lihat mayat yang lain jasadnya bertukar menjadi bulat, mengapa begitu, wahai tuan guru?" kata Yunus lagi.
"Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang durhaka kepada orang tuanya," jawab sang sufi.
"Ku lihat ada pula mayat yang kukunya amat panjang, hingga membelit-belit seluruh tubuhnya hingga keluar isi perutnya." sambung pemuda itu.
"Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahmi, semasa hidupnya mereka suka bertengkar dan memutus silaturrahmi," jelas ahli ibadah tersebut."
Balasan Kubur
"Wahai sang guru, golongan yang keenam yang aku lihat, sewaktu siangnya lahadnya kering, tetapi saat malam ketika aku menggali kubur itu, aku lihat mayat tersebut terapung dan lahadnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya." ujar Yunus.
"Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hidupnya," jawab sang sufi.
"Wahai guru, golongan yang terakhir yang aku lihat, mayatnya senantiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya.
Mengapa demikian halnya wahai guru?" tanya pemuda itu lagi.
"Wahai pemuda, mereka itulah golongan manusia yang berilmu.
Dan mereka beramal pula dengan ilmunya sewaktu hayat nereka.
Inilah golongan yang mendapat ridha dan kemuliaan di sisi Allah SWT.
Ingatlah, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap amal yang kita lakukan, neski hanya seberat zarah sekali pun," jelas sang sufi itu.
Setelah mengungkapkan pengalamannya, Yunus benar-benar tobat dengan memperbanyak menggali ilmu dari guru sufi tersebut.
Yunus sadar bahwa setiap apa yang dilakukan menusia ketika hidupnya, kelak akan mendapat balasan di alam kubur.
==========
Subhanallah..!!
Lantas Bagaimanakah keadaan kita nanti dalam kubur??

Kamis, 05 Maret 2015

Tidak Ada Kata "Tidak Bisa"

Kita hidup diatas dunia ini bukan pilihan kita sendiri namun itu semua karena sudah menjadi ketentuan dari yang maha kuasa, dan semua yang kita jalani juga sudah ditentukan oleh-Nya. Sebenarnya kita juga tidak perlu pusing juga dengan keadaan yang saat kita sudah dilahirkan dimuka bumi ini, walau kita berada dalam keadaan dan kondisi yang sangat memperihatinkan menurut pandangan orang yang ada disekitar kita. Kaya dan miskin itu juga semua adalah ketentuan dari dzat yang maha adil dan bijaksana,bahagian dan sedih semua juga sudah ditata begitu rapi oleh sang penguasa raya, makanya sangat nista sekali diri kita ini kalau sepanjang hidup kita bingung dengan keadaan diri kita, dan dengan keras tenanga kita mengusahakan agar hidup ini terasa indah dan bahagia dengan harta yang melimpah serta barang-barang yang mewah. Padahal kalau kita pikir dalam-dalam ternyata kebahagiaan dan keindahan hidup bukan terletak pada banyaknya harta dan mewahnya barang-barang yang ada, karena banyak orang yang kaya raya dengan harta yang seakan tidak pernah habis, dia malah merasa sengsara dan tertekan dalam setiap waktunya, dan tak sedikit juga kita melihat dan menyaksikan dengan kedua mata kita sendiri, orang yang rumahnya sederhana dengan makanan yang biasa-biasa saja ternya mereka merasa damai tentram dan senantiasa tersenyum seakan dialah orang yang paling kaya sedunia. Jadi keindahan hidup dan ketentraman hidup itu terletak pada bagaimana kita bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan apa yang sudah ditentukan oleh dzat yang maha kasih sayang kepada hambanya. Apa sih yang tidak disediakan untuk menunjang hidup kita di atas dunia ini..?! badan kita diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna, dan semua yang ada disekitar kita bisa kita gunakan dan kita mnfaatkan untuk diri kita. Lalu kemudian, pantaskah kita masih saja mengeluh dengan kondisi dan keadaan serta kemampuan diri kita..? masihkah kita akan membawa beribu-ribu alasan untuk kita menjadi orang yang malas dan tidak berguna..? dan apakah kita tetap merasa tidak bisa..? Tidak ada kata "TIDAK BISA" kalau kita mau menggunakan setiap apa yang dikaruniakan oleh tuhan kita adengan sesungguhnya.
Copyright © 2015 . Powered by catatan kita.