Sun-Sal Streaming Video

Live!

Tampilkan postingan dengan label Aqidatul Awam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidatul Awam. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2015

Fasal Pertama : Sifat Wajib Bagi Allah SWT ada 20

Mengenai Sifat-sifat Alloh SWT (Sifat Wajib) Pengarang nadhom berkata :

وَبَعْدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمَعْرِفَة   *  مِنْ وَاجِبٍ لِلهِ عِشْرِ يْنَ صِفَة

فَاللهُ مَوْجُوْدٌ قَدِ يْمٌ بَاقِي     *  مُخَالِفٌ لِلْخَلْقِ بِالْاٍِ طْلَا قِ

وَقَائِمٌ غَنِى وَوَاحِدٌ وَحَي    *  قَادِر مُرِيْدٌعَالِمٌ بِكُلِّ شَيْء

سَمِيْعٌ الْبَصِيْرُ وَالْمُتَكَلِّمُ  *  لَهُ صِفَاتٌ سَبْعَةٌ تَنْتَظِمُ
“ Dan setelahnya ketahuilah dengan yakin bahwa Alloh itu mempunyai 20 sifat wajib”. Alloh itu ada, Qodim, Baqi dan berbeda dengan makhlukNya secara mutlak”. “berdiri sendiri, Maha Kaya, Maha Esa, Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Menghendaki, Maha Mengetahui atas segala sesuatu”. “Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berbicara, Alloh mempunyai 7 sifat yang tersusun”. “yaitu Berkuasa, Menghendaki, Mendengar, Melihat, Hidup, Mempunyai Ilmu, Berbicara secara terus berlangsung”.

Kosakata
Kata بعد : maksudnya setelah menyebut Basmalah, Hamdalah, Sholawat dan Salam
Kata بوجوب المعرفة : berarti secara hakikat mengetahui dengan pasti yang sesuai dengan kebenaran berdasarkan dalil bukan taqlid (mengikuti apa adanya) karena taqlid itu dilarang dalam masalah aqidah jika muqalid (orang yang mengikuti) itu mempunyai keahlian dalam hal menganalisa ( menyelidiki).

Kataبالاٍطلا ق maksudnya : tanpa ada ikatan pada suatu hal, pengertiannya bahwa Alloh itu berbeda dengan makhlukNya dan segala hal.

Penjelasan :
Wajib bagi orang mukallaf (orang yang terbebani hukum Syariat) mengetahui sifat-sifat Alloh Ta’ala sifat 
(1) wajib yaitu tidak tergambar atau terfikirkan dalam akal seseorang tidak adanya sifat wajib itu, dan 
(2) sifat mustahil bagi Alloh yaitu tidak tergambar atau terfikirkan dalam akal seseorang adanya sifat mustahil itu
(3) dan sifat jaiz yaitu dibenarkan dalam akal seseorang adanya dan tidak adanya sifat Alloh tersebut.
Begitu pula wajib bagi seorang mukallaf mengetahui hal yang serupa sifat yang ada pada para Rosul Alaihi Sholatu Wassalam.
Pengarang Nadhom memilih bait-bait ini dengan menyebutkan sifat wajib bagi Alloh Ta’ala yaitu sebanyak 20 sifat dengan perincian sebagai berikut :

1. Sifat Wujud pengertiannya tetapnya sesuatu dan pasti adanya, sifat wujud ini wajib bagi Alloh Ta’ala Dzatnya bukan Illat (Pengaruh Luar) maksudnya bahwa selain Alloh (Makhluk) tidak dapat mempengaruhi adanya Alloh. Adapun sifat wujud tanpa Dzat itu terjadi seperti keberadaan kita yaitu melalui perbuatan Alloh Ta’ala. Adapun bukti adanya Alloh yaitu adanya makhluk ini, jika Alloh SWT tidak ada, maka tidak akan ada satu makhlukpun. Alloh Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku ini adalah Alloh, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku”. (QS. Thaha : 14) dan firman Alloh Ta’ala, “Tidaklah mereka memikirkan tentang kejadian diri mereka? Alloh tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan kebenaran dan waktu yang ditetapkan. Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (QS. Ar Rum :8)

Seorang badui ditanya tentang bukti adanya Alloh. Dia menjawab : kotoran unta itu menunjukkan adanya unta dan kotoran hewan (teletong : jawa) menunjukkan adanya hewan keledai dan bekas kaki itu menunjukkan adanya orang yang berjalan, maka langit itu mempunyai bintang dan bumi mempunyai jalan yang terbentang dan laut mempunyai ombak yang bergelombang, apakah semua itu tidak menunjukkan atas adanya pencipta yang bijak, lagi Maha Berkuasa dan Maha Mengetahui?.

2. Sifat Qidam : adalah tidak ada permulaan pada wujudnya Alloh Ta’ala maksudnya bahwa Alloh Ta’ala tidak mempunyai permulaannya karena Alloh Dzat yang agung, pencipta alam semesta dan pencipta makhluk yang ada, maka sudah pasti Alloh yang mendahuluinya. Alloh Ta’ala berfirman “Dialah Alloh yang Awal, yang Akhir, yang Dhohir dan yang Bathindan dia maha mengetahui ada segala sesuatu”. (QS. Ql Hadid : 3)

3. Sifat Baqa’ adalah tidak ada pengakhiran pada wujudnya Alloh bahwa Alloh Ta’ala senantiasa ada tanpa ada ujung dan senantiasa kekal tanpa ada akhirannya. Alloh Ta’ala berfirman “Semua yang ada dibumi ini akan binasa dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai keagungan dan kemuliaan”. (QS. Ar Rohman : 26 – 27). Alloh Ta’ala berfirman, “Setiap sesuatu pasti binasa kecuali Alloh. BagiNya sesuatu itu ditentukan dan padaNya pula kamu semua kembali”. (QS. Al Qoshos : 4)

4. Sifat Mukholafatuhu lilhawadist adalah tidak ada makhluk yang menyamai Alloh SWT. Alloh Ta’ala berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. As Syuro ; 11). Alloh Ta’ala berfirman, “Tidak ada satupun yang menyamainya”. (QS. Al Ikhlas : 4)

5. Sifat Qiyamuhu Binafsihi adalah Alloh tidak butuh pada tempat yang menetap padanya atau tempat yang ditempatinya atau pencipta yang mewujudkannya. Tetapi Dia Maha Kaya [tidak butuh] dari segala sesuatu selainnya (makhluk). Alloh Ta’ala berfirman, “Dan tunduklah semua (maksudnya merendah diri) pada Alloh yang kuasa hidup lagi senantiasa mengurus (makhluknya)”. (QS. Thoha : 111). Dan Alloh Ta’ala berfirman, “Wahai manusia, kamu sekalian membutuhkan Alloh, sedangkan Alloh Maha kaya (Tidak membutuhkan) lagi maha terpuji”. (QS. Faathir : 15). Dan Alloh Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Alloh sungguh Maha Kaya (Tidak membutuhkan) dari alam semesta” (QS. Al Ankabut : 6)

6. Sifat Al Wahdaniyah adalah tidak berbilang dalam Dzatnya, sifatnya, dan perbuatannya. Dan pengertian Esa Dzat Alloh itu tidak tersusun dari bagian-bagian dan Dia tidak bersekutu dalam kerajaanNya. Pengertian Esa sifatnya adalah bahwa tidak satupun (makhluk) bersifat seperti sifatnya Alloh. Dan pengertian Esa dalam perbuatan adalah bahwa tidak satupun (makhluk) berbuat seperti perbuatan Alloh Ta’ala. Maka Alloh adalah pencipta segala sesuatu dan pembuat segala sesuatu. Maka Alloh Ta’ala berdiri sendiri (independen) dalam penciptaanya dan pembuatannya (sesuatu yang baru). Alloh Ta’ala berfirman, “Maha suci Alloh Dialah yang Maha Esa lagi Maha Pemaksa” (QS. Az Zumar : 4) dan Alloh Ta’ala berfirman, “Dan Tuhanmu sekalian adalah tuhan yang maha Esa tidak ada Tuhan kecuali Dia yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqoroh : 163). Dan Alloh ta’ala berfirman, “Katakanlah bahwa Alloh itu Esa” (QS. Al Ikhlas :1). Dan Allah Ta’ala berfirman, “Allah tidak membuat anak dan tidak ada (Tuhan yang lain) menyertaiNya, jika ada Tuhan beserta Nya maka tuhan itu membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari Tuhan-Tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain, Maha Suci Alloh dari apa yang mereka sifatkan itu” (QS. Al Mukminun : 91). Dan Alloh ta’ala berfirman...

7. Sifat Qudrah adalah sifat Qodim yang menetap pada Dzat Alloh Ta’ala dalam menciptakan (sesuatu) dan meniadakan (sesuatu). Alloh Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Alloh itu maha kuasa atas segala sesuatu” (QS. An Nur : 45) dan Alloh Ta’ala berfirman, Tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan Alloh baik dilangit maupun dibumi. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (QS. Faathir : 44)

8. Sifat Irodah adalah sifat Qodim yang menetap pada Dzat Alloh Ta’ala. Sifat Irodah ini khusus terjadi pada hal-hal yang bisa terjadi pada setiap sesuatu yang boleh terjadi. Dengan demikian Alloh SWT mengatur alam semesta ini menurut keinginan, kehendak dan ketentuan-ketentuanNya. Maka Alloh Ta’ala menjadikan sesuatu ini panjang, pendek,baik dan buruk, alim atau bodoh pada tempat ini dan lainnya. Alloh Ta’ala berfirman, “ Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya : Jadilah maka jadilah ia” (QS. An Nahl ; 40). Alloh Ta’ala berfirman, “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya, tidak ada bagi mereka suatu pilihan. Maha Suci Alloh dan Maha Tinggidari apa yang mereka persekutukan” (QS. Al Qashas : 68). Alloh Ta’ala berfirman, “Katakanlah Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, kamu berikan kerajaan pada orang yang Kamu kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Mu lah segala kebaikan. Sesungguhnya Kamu Maha Menguasai atassegala sesuatu. (QS. Ali Imran : 26). Alloh Ta’ala berfirman, “Kepunyaan Alloh lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang dia kehendaki dan memberikan anak-anak laki-laki kepada siapa yang dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”. (QS. Asy Syuura : 94 – 50)

9. Sifat Ilmu adalah sifat Qodim yang menetap pada Dzat Alloh Ta’ala dalam mengetahui segala sesuatu. Alloh Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Alloh Ta’ala itu maha mengetahui atas segala sesuatu” (QS. Al Mujadalah : 7) dan Alloh Ta’alaberfirman, “Dan sesungguhnya Ilmu Alloh itu meliputi segala sesuatu” (QS. Ath-Thalaq : 12) dan Alloh Ta’ala berfirman, “Dan di sisi Allah kunci-kunci yang Ghaib, tidak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang didaratan dan dilautan dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basahatau kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata” (QS. Al An’am : 59). Alloh Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan kami lebih dekat dari pada urat lehernya” (QS. Qaaf : 16)

10. Sifat Hayat (Hidup) adalah sifat Qodim yang menetap pada Dzat Alloh Ta’ala. Sifat berkuasa, berkehendak, ilmu, mendengar, melihat dan berbicara. Maka jika Alloh itu tidak hidup, maka sifat-sifat tersebut tidak akan tetap (ada). Alloh Ta’ala berfirman, “Dan bertaqwalah pada Alloh yang Hidup dan tidak Mati” (QS. Al-Furqon : 58) dan Alloh Ta’ala berfirman “Dialah yang hidup tidak ada Tuhan selain Dia, maka sembahlah Dia dengan ikhlas karena beragama padaNya” (QS. Al Mukmin : 65). Dan Alloh Ta’ala berfirman, “Dan tunduklah semua (Maksudnya merendah diri) pada Alloh yang Maha Hidup lagi senantiasa mengurus (MakhlukNya)”. (QS. Thaha : 111)

11 dan 12 Sama' dan Bashor (Sifat Mendengar dan Melihat) adalah keduanya sifat yang menetap pada Dzat Alloh Ta’ala yang dapat menyingkap (membuka) sesuatu yang ada. Maka Alloh Ta’ala Maha Mendengar segala sesuatu hingga mampu mendengar jalannya semut dipadang pasir yang hitam dimalam yang gelap dan Maha Melihat segala sesuatu yang tampak secara keseluruhan yang meliputi segala yang tampak (dapat ditemukan). Alloh Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Alloh telah mendengar ucapan seorang wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, dan mengadukannya kepada Alloh, dan Alloh mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi maha Melihat” (QS. Al Mujadilah : 1) dan Alloh Ta’ala berfirman “pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”, mereka berdua berkata, “Ya tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas”, Alloh berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. (QS. Thaha : 43-46).

13 Sifat kalam adalah sifat Qodim yang menetap pada Dzat Alloh Ta’ala bukan berupa huruf atau bukan berupa suara yang menunjukkan pada seluruh maklumat. Alloh Ta’ala berfirman, “Dan Alloh telah berbicara pada Musa dengan langsung”. (QS. An Nisa :164) dan Alloh Ta’ala berfirman, “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah kami tentukan dan tuhanNya telah berbicara langsung kepadanya”. (QS. Al A’raaf : 143). Dan Alloh Ta’ala berfirman, “Dan tidak ada seorang manusiapun bahwa Alloh berbicara dengan dia kecuali dengan perantra wahyu”. (QS. Asy-Syura : 51).

Dan jika Alloh Ta’ala mempunyai sifat berkuasa, berkehendak, berilmu, hidup, mendengar, melihat, dan berbicara maka secara otomatis Alloh Ta’ala mempunyai sifat-sifat berikut ini :
14. Qodiroon (Dialah Yang Maha Kuasa)
15. Muriidan (Dialah Yang Maha Berkehendak)
16. Aaliman (Dialah Yang Maha Mengetahui)
17. Samii'an (Dialah Yang Maha Mendengar)
18. Hayyan (Dialah Yang Maha Hidup)
19. Bashiiron (Dialah Yang Maha Melihat)
20. Mutakalliman (Dialah Yang Maha Berbicara)

Sifat – sifat 20 ini terbagi menjadi 4 bagian :

1. Sifat Nafsiah adalah bernisbat pada kata nafsi (jiwa) maksudnya Dzat dan sifat nafsiah adalah tidak masuk akal bila Dzat tanpa sifat ini yaitu Esa Wujudnya. jadi sifat ini hanya satu yaitu "wujud".
2. Sifat Salbiah adalah bernisbat pada kata salbu maksudnya mentiadakan sesuatu yang tidak layak bagi Allah. Sifat salbiyah tersebut ada 5 yaitu : Qidam, Baqa’, Mukholafatuhu Lilhawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniyah.
3. Sifat Ma’ani. sifat yang pasti ada pada Dzat Allah SWT. Sifat Ma’ani ini ada 7 yaitu : Qudrat (sifat berkuasa), Irodat (berkehendak), Ilmu (berilmu), Hayat (hidup), Sama' (mendengar), Bashor (melihat) dan Kalam (berbicara).
4. Sifat Ma’nawiyah adalah sifat yang mulazimah (menjadi akibat) dari sifat ma'ani, Sifat Ma'nawiyah ini ada 7 yaitu : Qodiron, Muridan, Aliman, Hayyan, Sami'an, Bashiron, Mutakalliman.

Adapun hikmah menyebut sifat-sifat Ma’nawiyah yang terkandung dalam sifat ma’ani tersebut adalah sebagai berikut :

1. Aqidah diterangkan dengan cara terperinci, karena pemikiran bodoh dalam masalah aqidah adalah masalah benar.
2. Mengcounter (menjawab) orang-orang mu’tazilah yang mengingkari sifat – sifat ma’nawiyah. Mereka berpendapat bahwa Alloh Ta’ala Maha berkuasa dengan Dzatnya, berkehendak dengan Dzatnya tanpa ada kekuasaan, dan kehendak dan sifat-sifat lainnya. Mereka bermaksud mengingkari sifat-sifat itu untuk mensucikan Alloh Ta’ala. Mereka berpendapat : Kami mensifati Alloh Ta’ala dengan sifat-sifat itu baik sifat itu hadits (baru) atau sifat-sifat itu qodim. Jika sifat-sifat itu hadits maka sifat-sifat itu menempati Alloh Ta’ala. Atau jika sifat – sifat itu Qodim maka sifat-sifat qodim itu berbilang (banyak) maka hal itu mentiadakan sifat wahdaniyah (Esa). Dan menjawab hal itu kami berpendapat : Sesungguhnya sifat-sifat tersebut tidak berdiri sendiri dari DzatNya, hanya saja sifat-sifat itu mengikuti DzatNya yaitu sifat-sifat yang ada itu menempati DzatNya.
Perlu diketahui bahwa Ahlussunnah wal jama'ah tidak membatasi sifat2 Allah menjadi 20 sifat, Ahlussunnah wal jama'ah menetapkan ini karena sifat 20 ini merupakan syarat ketuhanan (syartul uluhiyah) sedang sifat yang lain seperti sifat af'al Allah, maka jumlahnya banyak, diantaranya adalah asma'ul husna.
Itulah sifat-sifat wajib bagi Allah yang wajib untuk kita ketahui dan kita hafalkan. Tentunya dengan nadzom yang sudah ada di atas menjadikan kita semakin mudah untuk menghafalkannya.
Cukup sekian dulu pelajaran kita dan kita akan kembali belajar bersama pada lain kesempatan. Semoga bermanfaat. Amiin...
sumber : http://cipcipmuuach.blogspot.com

Senin, 20 April 2015

Muqoddimah Aqidatul Awam - bag 3

ثُمَّ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ سَرْمَدًا * عَلَى النَّبِيّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَ

وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِع  *   سَبِيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُبْتَدِع

“Kemudian, semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan pada Nabi sebaik-baiknya orang yang mengEsakan Alloh” “Dan keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan agama secara benar bukan orang-orang yang berbuat bid’ah”.
  Kosakata Kata الصلاة : menurut bahasa adalah berdo’a untuk kebaikan, jika kata الصلاة disandarkan pada Alloh Ta’ala, maka mempunyai arti penambahan nikmat yang disertai dengan pengagungan dan penghormatan. Ada riwayat dari ibnu Abbas R.A. bahwasannya : الصلاة dari Alloh berarti Rohmat, dan dari hamba berarti do’a dan dari malaikat berarti meminta ampun.
  Kata السلام : berarti penghormatan yang layak pada nabi Muhammad SAW. (1) Hadits riwayat Abu dawud dan lainnya, dan dianggap hasan oleh Ibnu Sholah
  - Kata سر مدا : berarti senantiasa kekal
  Kataالنبي: berarti secara mutlak adalah seorang yang ditanggung (dijamin) dialah adalah junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
  Arti Nabi itu sendiri mempunyai dua definisi yaitu : Dia adalah seorang manusia, laki-laki, merdeka, diberi wahyu berupa syari’at, baik dia diperintahkan menyampaikan wahyu atau tidak, jika dia diperintahkan maka dia juga disebut seorang Rosul, maka Nabi itu lebih umum dari pada Rosul.
  Dia adalah manusia, laki-laki, merdeka, diberi wahyu berupa syari’at supaya diamalkan untuk dirinya sendiri sedangkan Rosul adalah manusia, laki-laki, merdeka, diberi wahyu berupa syari’at supaya disampaikan pada orang lain dan tidak ada seorang nabi atau Rosul kecuali dia seorang laki-laki. Sebagaimana firman Alloh SWT : Tidaklah kami utusseorang sebelum kamu kecuali seorang laki-laki. Kami mewahyukan (syari’at) pada mereka (QS. Al Anbiya’ ayat 7 )
  Dan kata Nabi tersebut ada dua tinjauan : Ditasydid huruf ya’ nya ( نبي ) diambil dari kata Nubuwwah yang berarti tempat yang tinggi, disebut nabi karena beliau adalah orang yang diangkat derajatnya atau orang yang diangkat derajatnya atau orang yang mengangkat derajat orang-orang yang mengikutinya. Dengan huruf hamzah ( نبيء ) diambil dari kata Naba’ yang berarti kabar karena beliau adalah orang yang memberi kabar atau orang yang diberi kabar oleh Alloh Ta’ala. Arti خير من قد وحد adalah seutama-utamanya seluruh orang-orang yang mengesakan Alloh. Sebagaimana ucapan Syaikh Bushiri dalam burdahnya : فاق النبين في خلق و في خلق * ولم يدانوه في علم ولا كرم وكلهم من رسل الله ملتمس * غرفا من البحراًو رشفا من الد يا م

“ Beliau melebihi para nabi dalam segi penciptaan bentuk jasmani dan akhlaqnya. Mereka selisih jauh dengan beliau dalam keilmuan dan kedermawanannya” : seluruh mereka menimba ilmu dari Rosululloh, bagai cebok dari air lautan atau seteguk dari air hujan yang deras”. Dan huruf alif dalam ucapan “وحدا “ menunjukkan mutlaq (dalam istilah gramatika bahasa arab). Kata واًله : yang dimaksud dengan mereka (keluarga Nabi) yaitu dalam kedudukan do’a. Sebagaimana pengertian keluarga nabi disini adalah setiap mukmin yang bertaqwa. Berdasar hadits Nabi dari riwayat Anas bin Malik R.A. berkata : Rosululloh SAW ditanya, “Siapa keluarga Muhammad itu?” kemudian beliau menjawab : “keluarga Muhammad adalah setiap orang yang bertaqwa”. (1) Adapun dalam kedudukan zakat, Imam Malik Rahimahulloh berpendapat, mereka (keluarga Nabi) adalah bani Hasyim saja. Sedangkan Imam Syafi’i Rahimahulloh berpendapat, mereka (keluarga Nabi) adalah bani Hasyim dan Bani Mutholib. Kata وصحبه : berarti kata benda, bentuk jama’ dari kata صاحب berarti shohabiun yaitu orang yang berkumpul dengan nabi SAW setelah datangnya risalah, beriman dan meninggal dalam keadaan beriman. Kata غير مبتدع : berarti orang yang berbuat bid’ah yaitu orang yang keluar dari kebenaran sedangkan arti kebenaran itu sendiri adalah setiap perkara yang sesuai dengan Al Qur’an, As Sunah, Ijma’, dan Qiyas. Kata والبدعة secara bahasa : berarti sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Sedangkan menurut syara’ yaitu sesuatu yang baru yang bertentangan dengan ketentuan pembuat Syara’ (Alloh). Penjelasan Kemudian setelah saya bersholawat dan salam pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW manusia paling utama mengEsakan Alloh, dan juga pada keluarganya, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dijalan agama yang benar dengan kebajikan hingga hari kiamat, hal itu dilakukan karena mengamalkan hadist Nabi SAW. Sabda Beliau “ setiap perkara yang mempunyai kepentingan yang tidak diawali dengan hamdalah dan bersholawat kepadaku maka dia terputus, terpotong dan terhapus dari setiap barokah” (1) Faedah : Imam Syafi’i berpendapat, “saya lebih menyukai seseorang yang mendahulukan didepan khutbahnya dan setiap hal yang diinginkannya, dengan membaca Hamdalah pada Alloh Ta’ala, dan bersholawat pada Rosululloh saw. HR. Abdul Qodir Ar Rahawi dalam kitab Arbain, Syaikh Al Haitsami berpendapat sanad hadist ini tidak kuat, tetapi karena dalam bingkai keutamaan amal boleh saja diamalkan dengan kedhoifannya dengan persyaratan-persyaratannya.

Kamis, 16 April 2015

Muqoddimah Aqidatul - bag 2

Setelah pengarang nadzom Aqidatul 'Awam mengawali nadzomnya dengan ucapan basmalah yakni menyebut nama Allah yang maha rahman dan rahim, maka beliau melanjutkan nadzomnya dengan memuji kepada Allah SWT dengan ucapannya :

(فَالْحَمْدُ لِلهِ الْقَدِيْمِ الْاَوَّلِ * اَلْاَخِرِ الْبَاقِيْ بِلَا تَحَوُّلِ)

“Maka segala puji bagi Alloh Yang Maha Dahulu, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Tetap tanpa ada perubahan”
Kosakata :
Arti الحمد menurut bahasa adalah pujian dengan lisan atas segala sesuatu yang tidak secara ikhtiar disertai rasa penghormatan baik nikmat itu diterima atau tidak, menurut syara’ adalah perbuatan yang tumbuh (keluar) dari penghormatan Sang Pemberi nikmat disebabkan bahwa Dia adalah pemberi nikmat walaupun tanpa ada orang yang memuji, baik perbuatan itu berupa dzikir dengan lisan, cinta dalam hati atau dilakukan dengan perbuatan.
Arti القديم adalah : Alloh yang mewujudkan tanpa diawali dan wujudnya terus berlangsung.
Arti الاًول adalah : sebelum adanya segala sesuatu tanpa ada permulaannuya.
Arti الاخر adalah : setelah adanya sesuatu tanpa ada akhirannya.
Arti الباقي adalah kekal yang terus berlangsung
Arti بلا تحول adalah : tanpa ada perubahan dan ini adalah bpenjelasan sifat Al Baqi.
Penjelasan
Dan saya juga memulai mengarang Mandzumah ini dengan menambahkan hamdalah, maksdunya adalah dengan memuji dengan lisan pada Alloh yang Qodim, Al Awwal, Al Akhir, Al Baqi disertai penghormatan padaNya dan meyakini bahwa setiap pujian itu tetap padaNya.
Alasan pertama : karena mengamalkan sabda Rosululloh SAW, “Setiap perkara yang mempunyai kepentingan yang tidak diawali didalamnya dengan hamdalah maka ia terputus” (1)
Alasan kedua : karena melaksanakan hak sesuatu yang wajib disyukuri nikmat-nikmatnya termasuk dikarangnya mandzumah ini.

Cukup sekian dulu semoga bermanfaat, dan tunggu pelajaran berikutnya..

Selasa, 07 April 2015

Muqoddimah AQIDATUL AWAM - Bag 1


اَبْدَأُبِاسْمِ اللهِ وَالرَّحْمَنِ * وَبِالرَّحِيْمِ دَائِمِ الْاِ حْسَانِ  

 
MUQODDIMAH
Pengarang nadhom rohimahulloh berkata :
(ابداُباسم الله والرحمن * وبالرحيم داًئم الاِ حسان)
“saya memulai dengan nama Alloh, Dzat yang maha pengasih, dan Maha Penyayang yang senatiasa memberikan kenikmatan tiada putusnya”.

Kosakata :
Arti الله adalah nama Dzat yang wajib ada, lagi wajib disembah.

Arti الرحمن adalah Dzat pemberi nikmat dengan seagung-agungnya nikmat, pokok-pokok nikmat seperti iman, kesehatan, rizqi, pendengaran, dsb.

Arti الرحيم adalah Dzat pemberi nikmat-nikmat yang bentuknya lembut (cabang) seperti bertambahnya iman, kesempurnaan nikmat, pendengaran, penglihatan dsb.

Arti داًئم الاٍ حسان adalah yang senantiasa memberikan kenikmatan yang tiada putusnya.

Penjelasan
Saya memulai mengarang mandhumah “Aqidatul Awam” ini dengan Basmalah seraya meminta pertolongan pada Alloh azza Wajalla yang luas Rahmatnya pada segala sesuatu, pemberian dan kenikmatanNya yang berlangsung tanpa ada putus dan bergeser.
-Pertama : karena mengikuti aturan Al Qur’an yang Aziz secara urutannya bukan turunnya Al Qur’an. -Kedua : karena mengamalkan hadits Rosululloh saw., “setiap perkara yang mempunyai kepentingan yang tidak diawali di dalamnya dengan Basmalah maka ia terputus” (1) maksudnya kurang dan sedikit kebaikan dan barokahnya. (1) Hadist riwayat Al Khatib dari Abu Hurairah ra. secara marfu’ -Ketiga : karena mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW, karena Beliau ketika membuka kitab dan surat-suratnya diawali dengan basmalah. Sebagaimana keterangan yang ada dalam tulisan (surat) Rosululloh saw. kepada Heraklius dan yang lainnya.

Semoga bermanfaat dan tunggu kelanjutannya...

Keagungan Nadzom Kitab AQIDATUL AWAM


Suatu ketika pengarang nadhom (semoga Alloh memberikan rahmat kepadanya) bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Sedang sahabat r.a duduk mengelilingi. Kemudian Beliau berkata pada pengarang nadhom : Bacalah Mandhumah (susunan bait Syair) tauhid, barang siapa hafal mandhumah itu akan masuk surga dan akan memperoleh kebaikan yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah”. Pengarang bertanya : “Apa Mandhumah itu ya Rosululloh?”, para sahabat berkata : “dengarkan apa yang dikatakan oleh Rosululloh SAW”. Rosululloh berkata : “Ucapkanlah : saya memulai dengan nama Alloh dan nama Dzat Maha Pengasih”. Kemudian beliau membaca ; “saya memulai dengan nama Alloh dan nama Dzat yang Maha Pengasih” hingga bait : “kitab nabi Khalil (Nabi Ibrahim) dan Al Kalim (Nabi Musa). Dalam kitab suci mereka terdapat kalam Dzat yang Maha Bijaksana lagi mengetahui”.
Dan Rosululloh SAW mendengarkannya.

Ketika bangun, beliau membaca apa yang beliau lihat dalam mimpinya dalam keadaan hafal dari awal hingga akhir bait. Kemudian beliau melihat Rosululloh kedua kalinya yaitu waktu menjelang subuh (sahur). Waktu itu Rosululloh SAW mengatakan : “bacalah apa yang engkau kumpulkan dalam hatimu”. Kemudian pengarang membacanya dari awal hingga akhir bait. Waktu itu dia sedang duduk di depan Rosululloh SAW dan para sahabat R.A. duduk mengelilingi mengucapkan: “Amin” setiap bait dari mandzumah ini dibacakan. Ketika beliau selesai membacanya, Rosululloh SAW berkata : “semoga Alloh memberikan petunjuk padamu terhadap apa yang dia ridhoi dan menerima itu semua, dan memberkatimu dan orang-orang mukmin, serta bermanfaat pada semua hamba, Amin”.

Ketika pengarang nadhom ditanya mengenai nadhom itu setelah diteliti oleh ulama’, dia menjawab pertanyaan mereka dan menambahkan isi nadhom itu, mulai dari perkataannya:
“Dan setiap apa yang disampaikan oleh Rosul maka konsekwensinya adalah pasrah dan menerima” hingga akhir bait dalam kitab.

Subhanallah... Semoga kita bisa mengamalkan serta senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah SWT, amiin ya robbal 'alamiin....
Copyright © 2015 . Powered by catatan kita.